Sabtu, 28 Juli 2012

Latar Belakang Sosiologi

Cuma mau bagi ilmu nih, tentang sosiologi. Check this out!


Latar
Belakang Munculnya Sosiologi
Istilah Sosiologi pertama kali dikenalkan oleh Auguste Comte (tetapi
dalam catatan Sejarah, Emile Durkheim lah yang melanjutkan ‘istilah’ tersebut
dan menerapkannya menjadi sebuah disiplin ilmu). Sosiologi berasal dari
gabungan 2 kata dalam bahasa Latin yaitu Socius yang artinya teman dan Logos
yang artinya ilmu. Secara keseluruhan, Sosiologi berarti ilmu yang mempelajari
masyarakat.
Masyarakat sendiri adalah kelompok atau gabungan dari individu yang
saling berhubungan, berbudaya, dan memiliki kepentingan yang relatif sama.
Sosiologi bertujuan untuk mempelajari masyarakat dengan meneliti/mengamati dan
menarik kesimpulan dari perilaku masyarakat, khususnya perilaku atau pattern sosial manusia.
Sosiologi tergolong ilmu yang fleksibel. Hal ini bisa dilihat dari
sifatnya yang tersusun dari penelitian-penelitian ilmiah yang bersifat kaku
namun bisa dikritik oleh publik karena sosiologi adalah ilmu yang berisi
tentang pengetahuan kemasyarakatan, oleh karena itu selalu dinamis dan dapat
diubah-ubah sesuai dan seiring dengan perkembangan yang terjadi di dalam objek
penelitiannya (masyarakat).
Sosiologi sendiri muncul akibat tekanan/ancaman yang dirasakan oleh
masyarakat terhadap hal-hal dan nilai-nilai yang selama ini sudah dianggap
benar dan nyaman dalam tatanan kehidupan mereka, khususnya dalam bidang sosial.
Renungan sosiologis dimulai ketika masyarakat mulai mengalami goncangan/krisis
terhadap nilai-nilai dan prinsip hidup yang mereka pegang, atau “threats to the taken-for-granted world”,
– Berger dan Berger.
Menurut Max Weber, sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari tindakan
sosial. Namun, hal ini tidak berarti semua tindakan yang dilakukan manusia
tergolong tindakan sosial. Tindakan sosial adalah sebuah tindakan yang
dilakukan atas dasar perilaku orang lain dan berorientasi pada perilaku orang
lain. Dengan kata lain, tindakan sosial adalah tindakan yang diambil menyangkut
DAN mengarah pada orang lain.
Hasil definisi Max Weber itu digabungkan dengan berbagai macam definisi
mengenai Sosiologi dari ahli-ahli yang lain seperti Auguste Comte (Bapak
Sosiologi), Emile Durkheim, Karl Marx, Hegel, Simmel, Kant, Talcott Parsons dan
lain-lain menjadi ilmu Sosiologi seperti yang kita kenal selama ini.
Kesimpulan sosiologi adalah pengetahuan kemasyarakatan yang tersusun dari hasil-hasil pemikiran imiah dan dapat di control secara kritis oleh orang lain.

Ruang Lingkup Sosiologi
  
Sosiologi sebagai Ilmu Pengetahuan
Sosiologi awalnya merupakan bagian dari Filsafat (induk ilmu pengetahuan;
Mother of Scientarium). Filsafat sendiri merupakan ilmu yang mencakup berbagai
macam ilmu pengetahuan tentang masyarakat, sains, geografi dan lain-lain, namun
seiring berkembangnya zaman, ilmu-ilmu tersebut mulai memisahkan diri dan
berkembang secara independen. Sosiologi baru muncul pada abad ke-19 sebagai
ilmu yang mempelajari masyarakat, berdampingan dengan ilmu Psikologi yang
mempelajari perilaku dan sifat-sifat manusia.

Sosiologi sebagai Ilmu Sosial
Sosiologi digolongkan sebagai ilmu sosial karena Sosiologi menggunakan
masyarakat sebagai obyek pembelajarannya. Lebih jelasnya, ilmu Sosiologi
membahas tentang masyarakat dari berbagai sisi dan sudut pandang yang beragam
serta hubungan dan interaksi antar individu dalam masyarakat tersebut.
Sosiologi dapat juga dikatakan sebagai:
1.suku-suku atau rumpun-rumpun sosial
2. ilmu yang mengkaji ‘kekuasaan’ secara lebih
khusus dan mendalam
3. ilmu sosial yang lain
4. ilmu yang mengkaji tentang masyarakat.
Sosiologi dapat digolongkan sebagai ilmu pengetahuan karena telah
memenuhi unsur-unsur atau syarat-syarat ilmu yaitu:
1. Bersifat empiris; bisa di nalar, tidak tentatif.
2. Bersifat teoritis; menyusun kesimpulan dari
pengamatan terlebih dahulu. Kesimpulan tersusun dari kerangka-kerangka pikiran
yang logis sehingga menjadi sebuah teori.
3. Bersifat kumulatif; dapat diperluas, diperbaiki,
dan diperhalus.
4. Bersifat non-etis; tidak menghakimi tapi
memperjelas fakta.

Kegunaan Ilmu Sosiologi
bagi jurusan Hubungan Internasional
Hubungan Internasional adalah ilmu yang menggabungkan ilmu politik,
antropologi, dan berbagai macam ilmu sosial lainnya dalam satu wadah ilmu. Hal
ini sangat penting karena mahasiswa dan alumni jurusan Hubungan
Internasional akan terlibat dalam
masyarakat secara langsung setelah lulus nanti; terutama masyarakat kelas atas
dan orang-orang yang berpengaruh dalam dunia diplomasi.
Untuk itu diperlukan keahlian khusus untuk memahami masyarakat secara general,
mengamati tingkah laku masyarakat dan menarik kesimpulan serta melakukan
analisis cara-cara terbaik untuk mendekati suatu golongan masyarakat, tidak
hanya masyarakat kalangan atas namun juga masyarakat kalangan bawah. Seorang
lulusan Hubungan Internasional haruslah bisa melakukan pendekatan pada dua
kelompok masyarakat agar visi dan misinya sebagai seseorang yang dapat
menjembatani komunikasi antar negara dapat tercapai.
Kegunaan ilmu Sosiologi bagi jurusan Hubungan Internasional terbagi 3:
1.     Kegunaan bagi masyarakat di negara
sendiri
Untuk dapat
menjembatani hubungan negara sendiri dengan negara lain, langkah pertama yang
harus diambil adalah memahami perilaku masyarakat negara sendiri. Hal ini
penting karena dengan memahami perilaku masyarakat negara sendiri, seorang
alumni Hubungan Internasional akan mampu menganalisis situasi dan kondisi serta
mungkin SWOT (Strength, Weakness, Opportunities, Threats) dari negara sendiri
untuk kemudian diolah lagi menjadi sesuatu yang bisa menjadi solusi atas hubungan
negaranya sendiri dengan negara lain.
Pertumbuhan sosial
yang meningkat tajam juga menjadi salah satu alasan bagi para mahasiswa dan
alumni Hubungan Internasional untuk mempelajari Sosiologi, karena dengan
Sosiologi dapat dilakukan metode-metode pendekatan untuk meneliti masyarakat
yang kerap bertumbuh.
2.     Kegunaan bagi masyarakat di negara lain
Insights atau pengetahuan yang
dipunyai seorang sarjana atau alumnus Hubungan Internasional akan sangat
berperan dalam membangun komunikasi antara negaranya sendiri dengan negara
lain, karena dengan begitu masyarakat di negara lain – khususnya masyarakat
yang berhubungan secara diplomatis – akan mempunyai gambaran atas
karakterisitik negara tersebut. Dari insights atau hasil analisis sosiologis
seorang mahasiswa atau alumnus Hubungan Internasional juga dapat dibentuk opini
publik negara lain terhadap negara sendiri. Baik atau buruknya opini publik
tersebut tergantung pada keahlian seorang mahasiswa atau alumnus Hubungan
Internasional dalam memberikan pengarahan tentang citra masyarakat negaranya
sendiri kepada negara lain. Jika mereka berhasil menyampaikan keadaan
masyarakat di negara mereka sendiri dengan baik, tentu kesan yang didapat akan
baik juga. Semakin baik kesan yang dibuat oleh si mahasiswa atau alumnus
Hubungan Internasional tersebut kepada masyarakat negara lain, semakin baik
pula kesan yang akan ditangkap oleh masyarakat negara lain tersebut.
3.     Kegunaan bagi diri sendiri
Poin ini adalah poin terakhir
sekaligus poin yang paling penting. Kegunaan belajar Sosiologi terhadap seorang
individu adalah kemampuan orang tersebut dalam menilai seseorang dan menemukan
cara yang tepat untuk berkomunikasi dengan orang lain akan terasah dengan baik
dan tentu saja skill semacam ini sangat berguna, baik untuk keperluan pribadi
maupun keperluan dalam melakukan pekerjaan.
Poin dari
pentingnya belajar Sosiologi dalam jurusan Hubungan Internasional adalah karena
Sosiologi membantu kita memahami masyarakat secara bertahap serta mengasah
kemampuan analisis kita. Dalam Sosiologi, terkadang dibutuhkan quick analysis
terhadap suatu perilaku masyarakat dan hal itu menuntut solusi yang cepat pula,
jadi otak kita terlatih untuk melakukan quick analysis terhadap masyarakat –
yang tentu saja akan mempercepat dan menambah efisiensi terhadap pekerjaan atau
riset yang sedang kita kerjakan.

Pokok bahasan sosiologi
Pokok bahasan sosiologi ada empat:
 1. Fakta sosial sebagai cara bertindak, berpikir, dan berperasaan yang berada di luar individu dan mempunyai kekuatan memaksa dan mengendalikan individu terebut.
Contoh, di sekolah seorang murid diwajidkan untuk datang tepat waktu, menggunakan seragam, dan bersikap hormat kepada guru. Kewajiban-kewajiban tersebut dituangkan ke dalam sebuah aturan dan memiliki sanksi tertentu jika dilanggar. Dari contoh tersebut bisa dilihat adanya cara bertindak, berpikir, dan berperasaan yang ada di luar individu (sekolah), yang bersifat memaksa dan mengendalikan individu (murid).
2. Tindakan sosial sebagai tindakan yang dilakukan dengan mempertimbangkan perilaku orang lain.
Contoh, menanam bunga untuk kesenangan pribadi bukan merupakan tindakan sosial, tetapi menanam bunga untuk diikutsertakan dalam sebuah lomba sehingga mendapat perhatian orang lain, merupakan tindakan sosial.
3. Khayalan sosiologis sebagai cara untuk memahami apa yang terjadi di masyarakat maupun yang ada dalam diri manusia. Menurut Wright Mills, dengan khayalan sosiologi, kita mampu memahami sejarah masyarakat, riwayat hidup pribadi, dan hubungan antara keduanya. Alat untuk melakukan khayalan sosiologis adalah permasalahan (troubles) dan isu (issues). Permasalahan pribadi individu merupakan ancaman terhadap nilai-nilai pribadi. Isu merupakan hal yang ada di luar jangkauan kehidupan pribadi individu.
Contoh, jika suatu daerah hanya memiliki satu orang yang menganggur, maka pengangguran itu adalah masalah. Masalah individual ini pemecahannya bisa lewat peningkatan keterampilan pribadi. Sementara jika di kota tersebut ada 12 juta penduduk yang menganggur dari 18 juta jiwa yang ada, maka pengangguran tersebut merupakan isu, yang pemecahannya menuntut kajian lebih luas lagi.
4. Realitas sosial adalah penungkapan tabir menjadi suatu realitas yang tidak terduga oleh sosiolog dengan mengikuti aturan-aturan ilmiah dan melakukan pembuktian secara ilmiah dan objektif dengan pengendalian prasangka pribadi, dan pengamatan tabir secara jeli serta menghindari penilaian normatif.

SEKIAN. SEMOGA BERMANFAAT BUAT INDONESIA!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar